![]() |
| KIKI & UMI |
Zawwiyyah Thoriqoh Qoodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya ,Tasikmalaya.
Perjalanan bersama Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah Menyambut Pecinta Kesucian jiwa mengarungi Lautan Tanpa Tepi Mencari Barokah dan Menabur Barokah untuk Sesama.
Sabtu, 25 April 2015
Senin, 23 Februari 2015
Terkuaknya
Kewalian Wali Samud Semarang Oleh Mbah Hamid Pasuruan
Pada suatu waktu, ada tamu dari Kendal sowan kepada
Mbah Hamid, singkat cerita, Mbah Hamid menitipkan salam untuk Wali Samud yang
kesehariannya berada di Pasar, menitipkan salam untuk seorang yang dianggap
gila oleh masyarakat Kendal dan Semarang.
Wali Samud kesehariannya berada di sekitar pasar
dengan pakaian dan tingkah laku persis seperti orang gila, namun tidak pernah
mengganggu orang-orang di sekitarnya. Terkadang beliau membantu bongkar muat
barang-barang di Pasar dan tidak mau di kasih upah.
Tamu tersebut bingung kenapa Mbah Hamid sampai menitip
salam untuk Samud yang dianggap gila oleh dirinya dan orang-orang di daerahnya.
Tamu tersebut bertanya, “Bukankah Samud
tersebut adalah orang gila Kyai..?”kemudian Mbah Hamid menjawab, “Beliau
adalah Wali Besar yang menjaga Kendal dan Semarang, Rahmat Allah turun, Bencana
di tangkis, itu berkat beliau, sampaikan salamku!”
Label:
Mutiara
Selasa, 25 November 2014
MENGENAL HAKEKAT KENABIAN
Pokok dari ajaran agama adalah mengajarkan
kepada ummatnya tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan, cara mengenal-Nya
dengan sebenar-benar kenal yang di istilahkan dengan makrifat, kemudian baru
menyembah-Nya dengan benar pula. Apakah agama Islam, Kristen, Hindu dan
lain-lain, semuanya mengajarkan ajaran pokok ini yaitu bagaimana seseorang bisa
sampai kehadirat-Nya. Karena itu pula Allah SWT menurunkan para nabi/Rasul
untuk menyampaikan metodologi cara berhubungan dengan-Nya, tidak cukup satu
Nabi, Allah SWT menurunkan ribuan Nabi untuk meluruskan kembali jalan yang
kadangkala terjadi penyimpangan seiring berjalannya waktu.
Nabi Adam AS setelah terusir dari syurga bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun bertobat kepada Allah SWT tidak diampuni, setelah Beliau berwasilah (teknik bermunajat) kepada Nur Muhammad barulah dosa-dosa Beliau diampuni oleh Allah SWT, artinya Allah mengampuni Adam as bukan karena ibadahnya akan tetapi karena ada faktor tak terhingga yang bisa menyambungkan ibadah beliau kepada pemilik bumi dan langit. Lewat faktor tak terhingga itulah maka seluruh permohonan Nabi Adam as sampai kehadirat Allah SWT. Faktor tak terhingga itu adalah Nur Muhammad yang merupakan pancaran dari Nur Allah yang berasal dari sisi-Nya, tidak ada satu unsurpun bisa sampai kepada matahari karena semua akan terbakar musnah kecuali unsur dia sendiri yaitu cahayanya, begitupulah dengan Allah SWT, tidak mungkin bisa sampai kehadirat-Nya kalau bukan melalui cahaya-Nya
Nabi Adam AS setelah terusir dari syurga bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun bertobat kepada Allah SWT tidak diampuni, setelah Beliau berwasilah (teknik bermunajat) kepada Nur Muhammad barulah dosa-dosa Beliau diampuni oleh Allah SWT, artinya Allah mengampuni Adam as bukan karena ibadahnya akan tetapi karena ada faktor tak terhingga yang bisa menyambungkan ibadah beliau kepada pemilik bumi dan langit. Lewat faktor tak terhingga itulah maka seluruh permohonan Nabi Adam as sampai kehadirat Allah SWT. Faktor tak terhingga itu adalah Nur Muhammad yang merupakan pancaran dari Nur Allah yang berasal dari sisi-Nya, tidak ada satu unsurpun bisa sampai kepada matahari karena semua akan terbakar musnah kecuali unsur dia sendiri yaitu cahayanya, begitupulah dengan Allah SWT, tidak mungkin bisa sampai kehadirat-Nya kalau bukan melalui cahaya-Nya
Label:
Mimbar
Kamis, 11 September 2014
Syekh Datuk Kahfi (dikenal
juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurul Jati) adalah tokoh
penyebar Islam di wilayah yang sekarang dikenal dengan Cirebon. Beliau juga
merupakan leluhur dari raja-raja Sumedang era Islam.
Beliau pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah
Amparan Jati. Syekh Datuk Kahfi merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng
Sumedang), penguasa di Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat.
Menurut legenda, di pantai utara Jawa Barat terdapat
dua buah pesantren yang terkenal dan dipimpin oleh orang-orang keturunan Arab.
Yang satu berada di Karawang, dipimpin oleh Syekh Quro dan yang satu lagi di
Amparan Jati dipimpin oleh Syekh Nurjati atau Syekh Nurul Jati.
Sedangkan Syekh Dzatul Kahfi atau lebih mudah disebut
Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Datuk Khafid yang bernama asli Idhafi Mahdi,
adalah seorang muballigh asal Baghdad . Beliau tiba di Pelabuhan Muara Jati
bersama rombongan sebanyak 22 orang, dua diantaranya adalah wanita, dan
diterima dengan baik oleh Ki Jumajan Jati, sang syahbandar Pelabuhan Muara
Jati, yang kemudian memperbolehkannya untuk menetap di sana.
Label:
Mutiara
Sabtu, 12 Juli 2014
Bertasawuf Yang Benar
Dua orang ulama besar pernah hidup pada satu zaman. Keduanya
dikenal sebagai ahli fiqih dan sekaligus ahli makrifat. Yang satu bernama Syech
Sofyan Al-Tsawri. Ia dikenal sebagai pendiri mazhab fiqih besar di zamannya;
tetapi dalam perkembangan zaman, fiqihnya kalah populer dengan fiqih-fiqih yang
lain, satunya lagi adalah Imam Ja’far Al- Shadiq, salah satu di antara
“bintang” cemerlang dalam silsilah tarikat.
Pada suatu hari Syech Sofyan Al-Tsawri mendatangi Imam
Ja’far Al-Shadiq dan di dapatinya Imam Ja’far dalam pakaian yang indah
gemerlap, hingga tampak bagi Al-Tsawri sangat mewah. Ia merasa, Imam yang
terkenal sangat salih dan zahid, tidak pantas untuk memakai pakaian seperti
itu. Ia berkata, “Busana ini bukanlah pakaianmu!”. Imam Jakfar Al-Shadioq menimpali
ucapan Al-Tsawri dengan berkata, “Dengarkan aku dan simak apa yang akan aku
katakan padamu. Apa yang akan aku ucapkan ini, baik bagimu sekarang dan pada
waktu yang akan datang, jika kamu ingin mati dalam sunnah dan kebenaran, dan
bukan mati di atas bid’ah. Aku beritakan padamu, bahwa Rasulullah saw hidup
pada zaman yang sangat miskin. Ketika kemudian zaman berubah dan dunia datang,
orang yang paling berhak untuk memanfaatkannya adalah orang-orang salih, bukan
orang-orang yang durhaka; orang-orang mukmin, bukan orang-orang munafik;
orang-orang Islamnya bukan orang-orang kafirnya. Apa yang akan kau ingkari, hai
Al- Tsawri? Demi Allah, walaupun kamu lihat aku dalam keadaan seperti ini sejak
pagi hingga sore, jika dalam hartaku ada hak yang harus aku berikan pada
tempatnya, pastilah aku sudah memberikannya semata-mata karena Allah.”
Label:
Mimbar
Sabtu, 24 Mei 2014
Syaikh Abdul Malik Amir Maghribi Padepokan Blacanan
Pada penyerbuan Fatahillah ke sunda kelapa 1522-1527 Masehi,
saat itu pulalah terjadi perpindahan secara besar-besaran, ribuan pasukan Demak
Bintoro pergi menuju Sunda kelapa (sekarang Jakarta), Syaikh Abdul Malik Amir
Maghribi dan putranya yang bernama Husain menyertai Fatahillah berjihad ke
Sunda Kelapa, dari jihad fi sabilillah Syaikh Abdul Malik Amir Maghribi
kemudian berdakwah keliling tanah Jawa kemudian membangun Padepokan Blacanan di
daerah Pekalongan seperti ayahnya yang juga seorang penasehat di Padepokan
Trengguli Wonosalam Demak. Beliau bersama Syaikh Hasan Thohir merupakan salah
seorang ulama yang hidup pada masa Kerajaan Demak. Dia memiliki garis keturunan
dengan Sunan Malik Ibrohim Maghribi Gresik. Beliau bermukim di Demak, lokasi
tepatnya sekarang adalah di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten
Demak. Semenjak hidupnya dia bersama kyai dan tokoh agama Islam lainnya
bermukim di tempat yang digunakan untuk mendidik para calon kyai yang akan
diterjunkan di sejumlah daerah. Terdapat sembilan guru ahli agama yang mengusai
berbagai ilmu, seperti ahli Nahwu, ahli Ilmu Kanuragan, Pengobatan, Fiqih,
Tauhid, Tashawwuf, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Mereka yang berada di
Padepokan Trengguli tersebut antara lain: Syekh Maulana Abdurrahman bin Syaikh
Ibrohim Husain Maghribi bin Syekh Abdullah (penasehat), Syaikh Hasan Thohir
(pengasuh padepokan), anggota pengasuh: Syaikh Ali Ahmad, Nyai Sayidah Siti
Arifah istri Syaikh Hasan Tohir,
Label:
Mutiara
Sabtu, 15 Februari 2014
SEKILAS TENTANG
Maulana Syaikh Muhammad Ali Hanafiah
Ar Rabbani
(Tuangku Hanafiah Grand Mursyid Qodiriyah Hanafiah)
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani adalah
salah satu ulama nusantara yang kembali memurnikan dan mengangkat nilai-nilai
Tauhid pada ajaran-ajaran Tasawuf di Indonesia. Tuangku Hanafiah berupaya untuk
memperkenalkan kembali ajaran Tasawuf murni yang terlepas dari pengaruh klenik
serta ajaran-ajaran yang menyimpang dari nilai ke Tuhanan. Beliau sangat
menyadari betapa banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan daripada ajaran
Tasawuf dan banyak juga diantaranya yang bukan ajaran Tasawuf malah
mengatas namakan dirinya kelompok Tasawuf
Khususnya di Indonesia keprihatinan Tuangku semakin mendalam melihat praktek-praktek Tasawuf yang seharusnya lebih mendekatkan hamba kepada Allah SWT, malah hanyut dengan ritual-ritual yang bukan lahir dari ajaran Tasawuf, semakin membuat hamba jauh dari nilai-nilai keTuhanan sendiri, bagi Tuangku Hanafiah, Tasawuf merupakan “ruh” Islam yang semestinya dipelihara kemurniannya, bahkan dengan “ruh” inilah Islam menjadi Rahmat bagi seluruh alam.
Label:
Mutiara
Langganan:
Postingan (Atom)

